Sabtu, 25 Oktober 2014

Keutamaan sholat tasbih dan faedahnya

Keistimewaan Tasbih dan Shalat Tasbih
Tasbih berasal dari kata ﺳَﺒَﺢَ – sabaha, yang artinya
‘menjauh’. Ber-tasbih dalam pengertian syariat artinya
‘menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan dan
kejelekan’.
Dengan begitu, ketika kita bertasbih, maka kita
menunjukkan keluarbiasaan Allah dalam segala hal,
tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Ada 7 surat yang dimulai dengan ucapan tasbih: Surat
al-Isra’ (17:1), Surat al-Hadid (57:1), Surat al-Hasyr
(59:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat as-Shaf (61:1),
Surat at-Taghabun (64:1), Surat al-A’la (8:1).
Dalam al-Quran, banyak perintah agar kita ber-tasbih
kepada Allah swt dalam segala keadaan. Di antaranya
adalah ayat-ayat berikut.
Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan,
dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum
terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih
pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada
waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang
(Thoha/20: 130)
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu,
karena kamu berada dalam penglihatan Kami, dan
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu akan
berdiri (at-Thur/52: 48)
Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji
Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu
dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu pada waktu
petang dan pagi. (al-Mu’min/40: 55)
KEISTIMEWAAN TASBIH
1. Kalimat yang paling dipilih Allah swt
Suatu kali Rasulullah ditanya apakah ucapan yang
paling unggul? Rasulullah menjawab,
ﻣَﺎ ﺍﺻْﻄَﻔَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻤَﻼَﺋِﻜَﺘِﻪِ ﺃَﻭْ ﻟِﻌِﺒَﺎﺩِﻩِ : ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ
‘Yang dipilih Allah swt terhadap para malaikat-Nya dan
hamba-Nya adalah ucapan: Subhanallahi wa
bihamdihi’ (Riwayat Muslim)
2. Memberatkan timbangan amal
Rasulullah bersabda,
ﻛَﻠِﻤَﺘَﺎﻥِ ﺧَﻔِﻴْﻔَﺘَﺎﻥِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥِ ﺛَﻘِﻴْﻠَﺘَﺎﻥِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤِﻴْﺰَﺍﻥِ ﺣَﺒِﻴْﺒَﺘَﺎﻥِ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ
‘Ada dua kalimat yang keduanya ringan diucapkan di
lidah namun memberatkan timbangan amal dan
keduanya disukai oleh ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi
wa bi hamdihi subhanallahil azhim’ (Riwayat Bukhari
dan Muslim)
3. Menghapus dosa yang banyak
Rasulullah bersabda,
ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﺣُﻄَّﺖْ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻩُ ﻭَﺇِﻥْ
ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺯَﺑَﺪِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ
Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahi wa bi
hamdihi 100x maka Allah dihapuskan kesalahan
meskipun kesalahannya itu sebanyak buih
lautan’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
4. Punya perkebunan kurma di surga
ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﻏُﺮِﺳَﺖْ ﻟَﻪُ ﻧَﺨْﻠَﺔٌ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ
‘Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahil azhimi
wa bi hamdihi, maka ditanamkan baginya satu pohon
kurma di surga’ (Riwayat at-Tirmidzi)
5. Terhindar dari kesedihan dan penyakit-penyakit
berat (misal: stroke)
Suatu kali Qabishah al-Makhariq mendatangi Rasulullah
dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkan aku beberapa
kalimat (ucapan) yang dengannya Allah memberi
manfaat kepadaku, karena sungguh umurku sudah tua
dan aku merasa lemah untuk melakukan apapun’. Lalu
Rasulullah berkata, ‘Adapun untuk duniamu, maka
ketika engkau selesai shalat Shubuh, maka ucapkanlah
tiga kali:
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ، ﻭَﻻَ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻻَّ
ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻌَﻠِﻲِّ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ
Jika engkau membacanya, maka engkau terhindar dari
kesedihan, kusta (lepra), penyakit biasa, belang, lumpuh
akibat pendarahan otak (stroke)…’ (Riwayat Ibnu as-
Sunni dan Ahmad)
6. Senjata menghadapi persoalan besar
Diriwayatkan dari Abu Hurayrah, bahwa jika Rasulullah
menghadapi persoalan penting, maka beliau
mengangkat kepalanya ke langit sambil mengucapkan:
Subhanallahil azhim, dan jika beliau bersungguh-
sungguh dalam berdoa, maka beliau mengucapkan: Ya
hayyu ya qoyyum (Riwayat at-Tirmidzi)
7. Senjata menghadapi krisis pangan
Rasulullah bersabda,
ﻃَﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻓِﻲ ﺯَﻣَﻦِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ: ﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴْﺢُ
ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﺪِﻳْﺲُ، ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻨْﻄِﻘُﻪُ ﻳَﻮْﻣِﺌِﺬٍ ﺍﻟﺘَّﺴْﺒِﻴْﺢَ ﺃَﺫْﻫَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ
ﺍﻟْﺠُﻮْﻉَ
‘Makanan orang beriman pada zaman munculnya Dajjal
adalah makanan para malaikat, yaitu tasbih dan taqdis.
Maka barangsiapa yang ucapannya pada saat itu
adalah tasbih, maka Allah akan menghilangkan darinya
kelaparan’ (Riwayat al-Hakim)
KEISTIMEWAN SHALAT TASBIH
Melakukan shalat tasbih bukan perbuatan bid’ah, seperti
yang dikatakan oleh segelintir orang (yang awam dan
sok ikut-ikutan). Shalat Tasbih termasuk kebiasaan
orang-orang shalih. Abdullah bin Mubarok dan generasi
sesudahnya selalu melakukannya.
Kata Syaikh Ali al-Khawwash, ‘Sebaiknya shalat tasbih
dilakukan sebelum shalat hajat, karena shalat tasbih ini
menghapus dosa-dosa, dengan demikian menjadi sebab
terkabulnya hajat’.
ﻋَﻦْ ﻋِﻜْﺮِﻣَﺔَ ﻋَﻦْ ﺇِﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻌَﺒَّﺎﺱِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ
ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐِ : ﻳَﺎ ﺃَﺑَّﺎﺱُ ﻳَﺎ ﻋَﻤَّﺎﻩُ، ﺃَﻻَ ﺃُﻋْﻄِﻴْﻚَ؟ ﺃَﻻَ ﺃَﻣْﻨَﺤُﻚَ؟ ﺃَﻻَ ﺃَﺣْﺒُﻮْﻙَ؟
ﺃَﻻَ ﺃَﻓْﻌَﻞُ ﺑِﻚَ ﻋَﺸْﺮَﺣِﺼَﺎﻝٍ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻧْﺖَ ﻓَﻌَﻠْﺖَ ﺫَﻟِﻚَ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻚَ ﺫَﻧْﺒَﻚَ
ﺃَﻭَّﻟَﻪُ ﻭَﺁﺧِﺮَﻩُ، ﻗَﺪِﻳْﻤَﻪُ ﻭَﺣَﺪِﻳْﺜَﻪُ، ﺧَﻄَﺄَﻩُ ﻭَﻋَﻤْﺪَﻩُ، ﺻَﻐِﻴْﺮَﻩُ ﻭَﻛَﺒِﻴْﺮَﻩُ،
ﺳِﺮَّﻩُ ﻭَﻋَﻼَﻧِﻴَﺘَﻪُ، ﻋَﺸْﺮَ ﺣِﺼَﺎﻝٍ ﺃَﻥْ ﺗُﺼَﻠِّﻲَ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ﺗَﻘْﺮَﺃُ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ
ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻓَﺎﺗِﺤَﺔَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺳُﻮْﺭَﺓً، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻓَﺮَﻏْﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﻓِﻰ ﺃَﻭَّﻝِ
ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﻗُﻠْﺖَ: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﻭَﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺧَﻤْﺲَ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﻣَﺮَّﺓً، ﺛُﻢَّ ﺗَﺮْﻛَﻊُ ﻓَﺘَﻘُﻮْﻟُﻬَﺎ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺍﻛِﻊٌ
ﻋَﺸْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﺗَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮْﻉِ ﻓَﺘَﻘُﻮْﻟُﻬَﺎ ﻋَﺸْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﺗَﻬْﻮِﻯ
ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ ﻓَﺘَﻘُﻮْﻟُﻬَﺎ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺳَﺎﺟِﺪٌ ﻋَﺸْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﺗَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮْﺩِ
ﻓَﺘَﻘُﻮْﻟُﻬَﺎ ﻋَﺸْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﺗَﺴْﺠُﺪُ ﻓَﺘَﻘُﻮْﻟُﻬَﺎ ﻋَﺸْﺮًﺍ، ﺛُﻢَّ ﺗَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻚَ ﻓَﺘَﻘُﻮْﻟُﻬَﺎ
ﻋَﺸْﺮًﺍ، ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺧَﻤْﺲٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ، ﺗَﻔْﻌَﻞُ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻰ ﺃَﺭْﺑَﻊِ
ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ، ﺇِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ ﺃَﻥْ ﺗُﺼَﻠِّﻴَﻬَﺎ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣَﺮَّﺓً ﻓَﺎﻓْﻌَﻞْ، ﻓَﺈِﻥْ
ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻞْ ﻓَﻔِﻰ ﻛُﻞِّ ﺟُﻤْﻌَﺔٍ ﻣَﺮَّﺓً، ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻞْ ﻓَﻔِﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻬْﺮٍ ﻣَﺮَّﺓً، ﻓَﺈِﻥْ
ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻞْ ﻓَﻔِﻰ ﻛُﻞِّ ﺳَﻨَﺔٍ ﻣَﺮَّﺓً، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻞْ ﻓَﻔِﻰ ﻋُﻤُﺮِﻙَ ﻣَﺮَّﺓً –
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺃﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺇﺑﻦ ﺧﺰﻳﻤﺔ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ
Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah
bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, ‘Wahai
Abbas, wahai pamanku, maukah engkau aku beri
sesuatu? Maukah engkau aku anugerahkan sesuatu?
Maukah engkau aku berikan hadiah? Yaitu sepuluh
keutamaan, yang jika engkau melakukannya, Allah
mengampuni dosamu: dosa yang awal dan yang akhir,
dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak
disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang
besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan. Sepuluh
keutamaan itu engkau dapatkan dengan cara engkau
lakukan shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau
membaca al-Fatihah dan satu surat (dari al-Qur’an).
Jika engkau telah selesai membaca al-Fatihan dan
surat pada awal rakaat, sementara engkau masih
berdiri, maka engka baca kalimat SUBHANALLAH WAL
HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH, WALLAHU
AKBAR sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, lalu
engkau ucapkan kalimat tadi sebanyak 10 kali.
Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu
ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau
sujud, ketika sujud engkau ucapkan kalimat itu
sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu
dari sujud, maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak
10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan kalimat
itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat
kepalamu (dan duduk istirahat sebentar), maka engkau
ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Maka jumlah
kalimat itu 75 kali pada setiap satu rakaat. Engkau
lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Jika
engkau mampu melakukannya (shalat) itu setiap hari
sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak mampu
melakukannya setiap hari, maka (lakukan) setiap
minggu sekali! Jika engkau tidak mampu melakukannya
setiap minggu, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika
tidak mampu juga, maka (lakukan) setiap tahun sekali!
Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) sekali seumur
hidupmu’.
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, 1297; Ibnu Majah, 1387;
Ibnu Khuzaimah, 1216; al-Hakim dalam al-Mustadrak ,
1233; al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra , 3/51-52, dan
lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam,
dari Abu Syu’aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin
Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sanad ini
berderajat hasan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar